Tom to Top ; Hikayat Tom Burger

Tom Burger di salah satu otletnya
Tom Burger di salah satu otletnya

Medio 2003, Tom berkutat di muka layar komputer Pentium 1 di kamar kostnya. Ia sedang merancang proposal untuk diajukan dalam  Program Kreatifitas Mahasiswa Kewirausahaan dari Ditjend Dikti. Terbukalah kembali semangat Tom untuk memulai bisnis baru yang tak diduga di kemudian hari akan melejitkan namanya.

Tom memang penggila kewirausahaan atau enterpreneurship kata orang modern. Di OSIS SMAnya, Tom memperkenalkan kegiatan lomba cipta logo dan kalender sekolah yang nantinya akan jadi event tahunan sekolah. Dari kegiatan itu, OSIS mendapatkan pemasukan hasil penjualan stiker dan kalender. Ketika menginjak bangku kuliah, Tom menjadi agen tabloid lokal, ikut pula menjadi marketing alat kesehatan dan produk telepon PASTI (salah satu pioneer CDMA masa itu), hingga menjajal Pasar Raya Padang mengampas (menjadi canvasser) perhiasan dan asesoris imitasi. Dunia aktifisme tak ditinggalkannya. Pada masa bersamaan Tom masih sempat bergelut di dunia NGO dan dunia training. Pendek kata : TAGEH !!

Medio 2004 proposal Tom disetujui Ditjend Dikti. Dengan modal 5 juta rupiah sebuah outlet burger dilaunching. Karena menyasar pasar mahasiswa, merek Burger Mahasiswa (Burma) diperkenalkan. Outlet dipajang di kampus dan ternyata cukup membuat lutut menggigil ketika memulainya. Betapa tidak, mahasiswa cum aktifis itu kini dipaksa berdiri di outlet bersenjata pisau dapur dan sendok penggorengan. Ngeri kawan…🙂 Continue reading

Berbuat Untuk Diri Sendiri

Diajarkan kepada kita untuk mendahulukan orang lain dari pada diri sendiri. Membantu orang lain, memajukan kepentingan bersama, mengurangi porsi diri sendiri. Semakin banyak porsi untuk di luar diri sendiri, semakin mulia pulalah nilainya. Sebaliknya andaikata bahagian terbesar adalah untuk urusan diri sendiri, titel egois melekat di kening. Apalagi kalau mangauik saja untuk diri sendiri. Cangok itu namanya atawa serakah bahasa umumnya.

Orang menyebutnya jiwa sosial. Orang berjiwa sosial baik hatinya. Peduli akan orang lain. Orang susah, ditolongnya. Orang terjepit, dilepaskannya. Orang sempit, dilapangkannya. Orang terjatuh, dipapahnya. Curah dia pada orang tak berpunya. Tak harap pamrih apabila sudah memberi. Tangan di atas adalah lebih baik.
Continue reading

Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck

Pertama kali mendengar “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” ialah dari kaset. Entah dari mana kaset itu mendapatkan cerita itu. Yang jelas kaset itu dipinjam oleh bako lalu dibawa ke kampung. Lama tak terdengar hingga tiba kabar bahasa kaset telah hanyut dibawa banjir besar Batang Mahat.

Mendengar di kaset ternyata berlain dari pada membaca di buku. Di kaset, hikayat ini hanya seperti roman picisan biasa. Zainuddin yg miskin terpaksa kalah dari Aziz yang kaya. Cerita diawali dialog perpisahan Zainuddin dan Hayati yang bermandi air mata. Hayati menghadiahi Zainuddin beberapa helai rambut sebagai pengikat cinta, janji untuk bersetia sehingga nanti bersua. Selepas itu ternyata Hayati berkhianat, tunduk kepada Aziz. Tinggallah Zainuddin berhiba hati hingga nanti masa membalas.

Continue reading

Menjadi Konsumen

Yang kita (penjual) pikirkan tak selalu sama dengan yang pembeli pikirkan. Kita menjual, mereka membeli. Kita butuh sales, mereka butuh barang dan jasa. Kita butuh profit, mereka butuh nilai.

Jika kita punya toko fotocopy yang buka 24 jam, apa yang ada di benak kita agar toko itu bekerja dengan layak dalam 24 jam?

Mungkin kita memikirkan shift karyawan.

Kita memikirkan mesin yang handal, bisa kerja nonstop.

Kita pikirkan pula powersupply supaya mesin dapat bekerja nonstop.

Continue reading

Berugi Mangka Berlaba

“Berugi mangka berlaba.” Kata Nenek Moyang.

Maknanya lebih kurang bahwa setiap return meniscayakan investment. Itu artinya ada risk di sana.

“High Return, High Risk.” Kata orang-orang modern. Maknanya kalau hendak mendapatkan hasil besar, bersiap pula untuk gagal besar.

Bila hendak membunuh semut, hanya seujung jari yang kita perlukan. Tindeh sajalah, selesai perkara. Perlawanan semut seekor taklah seberapa. Resiko? Hampir tak ada. Kalaupun gagal paling-paling hanya digigit semut yang rasanya hanya seperti digigit semut saja.

Akan lain ceritanya apabila hendak menangkap ikan paus. Tak cukup hanya bermodal ujung jari.

Continue reading